• Pura Tanah Lot
  • Wisata Naik Gajah

Sebuah bangunan suci bagi umat Hindu sekaligus menjadi bagian dari objek wisata di Bali, maka Pura Kehen yang terletak di Desa Cempaga Bangli layak untuk kita ketahui. Pura Kahyangan Jagat ini memang memiliki keunikan, berbeda dengan bangunan suci lainnya, pada pintu masuk menggunakan candi kurung tidak candi bentar seperti pada umunya. Bale Kulkul yang dibangun dengan posisi bangunan lebih tinggi, di sini dibuat unik diletakkan di atas pohon beringin yang sudah berusia ratusan tahun.

Ada cerita menarik mengenai keberadaan pohon beringin di Pura Kehen Bangli ini, apabila salah satu dahan patah maka diyakini sesuatu musibah akan terjadi, seperti kehadian-kejadian yang sudah pernah terjadi meninggalnya Raja Bangli, Pendeta dan juga beberapa orang di kalangan masyarakat. Sehingga masyarakat memandangnya sebagai sesuatu yang unik, religius dan mistis, ini diyakini turun temurun sampai sekarang.

 

 Pura Kehen ini terlihat begitu asri dengan suasana sejuk disekitarnya, sehingga banyak wisatawan yang mengagendakan perjalanan tour di Bali untuk berkunjung ke sini, menjadi salah satu objek wisata andalan di Bangli selain Kintamani dan Penglipuran. Dari kawasan Bali Selatan, seperti Kuta dan Nusa Dua butuh sekitar 1 jam perjalanan berkendaraan. Untuk datang ke lokasi anda bisa sewa mobil ataupun sepeda motor, sambil menikmati segarnya udara pegunungan di kabupaten Bangli.

Piodalan atau pujawali yang dilaksanakan di Pura Kehen, setiap 6 bulan sekali kalender Hindu, tepatnya pada Hari Raya Pagerwesi, dan tingkatan yang lebih besar dinamakan Ngusaba Dewa dilaksankan setiap tiga tahun sekali. Pada hari-hari raya tertentu seperti Saraswati, Buda Kliwon, purnama, Tilem dan Kajeng Kliwon tetap diadakan upacara dalam skala lebih kecil. Setiap upacara keagamaan di Pura Kahyangan Jagat ini, tatanan masyarakat yang dinamakan desa Gebog Domas dan juga Bebaunan di Pura Kehen akan mengambil perannya masing-masing, mulai dari segala persiapan sehingga berjalan dengan lancar.

Belum bisa dipastikan kapan pembangunan pura Kehen ini dimulai, salah satu prasasti yang berangka tahun 804-836 Saka atau 882-914 Masehi yang menyebut nama Hyang Api di Desa Simpat Bunut dan kata Kehen tersebut berarti Keren atau berarti api yang berhubungan dengan prasasti tersebut. Bisa diperkirakan umurnya sudah tua dan kuno memiliki nilai histori tinggi, sehingga dijadikan sebagai Cagar Budaya dan juga objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan. Untuk itulah dibangun fasilitas parkir, toilet dan juga warung penjual makanan.