• Pura Tanah Lot
  • Wisata Naik Gajah

Berbagai tradisi unik di Bali masih banyak berkembang lestari sampai sekarang ini, seperti halnya Ngelawang, merupakan upacara ritual warisan leluhur dalam kehidupan beragama yang patut dijaga kelestariannya. namun demikian tidak semua desa melakukan tradisi ngelawang tersebut. Seperti di Kuta ataupun Ubud sebagai objek wisata di Bali yang paling populer, masih melestarikan warisan budaya tersebut, di mata wisatawan tentu ini menjadi tontonan unik. Barong yang biasa mereka saksikan pementasanya di pura ataupun di kawasan Batubulan, kini mereka bisa jumpai di jalan-jalan desa depan rumah penduduk.

Tradisi Ngelawang sendiri merupakan ritual penolak bala bagi masyarakat Hindu di Bali, dilaksanakan setiap 6 bulan sekali (210 hari) di antara Hari raya Galungan dan Kuningan. Pelaksanannya melibatkan sekelompok orang terutama anak-anak dan bahkan juga dewasa yang terdiri dari 8-15 orang, pesertanya terdiri dari dua orang penari yang memakai seperangkat pakaian barong, biasanya wujud barong yang digunakan menerupai wujud binatang dan paling populer dalam bentuk bangkung (babi) sehingga disebut juga dengan nama Barong Bangkung, kemudian penabuh gamelan dan peserta iring-iringan.

 Ngelawang Berasal dari kata "lawang" yang artinya pintu, mereka akan berkeliling banjar / desa, menarikan barong bangkung tersebut dari rumah ke rumah dengan tujuan penolak bala, mengusir roh-roh jahat agar kembali ke tempatnya, mengusir wabah penyakit dan hal-hal lainnya berbau negatif , serta agar warga desa diberikan keselamatan dan kerahayuan. Suatu tujuan mulia setelah merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan) saat Hari raya Galungan sehingga warga bisa melakukan yadnya dengan baik di saat Hari Kuningan tiba.

Pada setiap desa pakraman di Bali, tradisi Ngelawang mungkin tata cara pelaksanannya berbeda, namun memiliki tujuan sama. Ada juga menggelar rirual tersebut di saat wabah terjadi, walaupun tidak pada saat Galungan atau Kuningan, semuanya sebgai simbol menghadirkan kekuatan suci Hyang Iswara untuk menghilangkan penyakit yang menyengsarakan umat. Barong itu sendiri merupakan lambang perwujudan Sang Banas Pati Raja, yang memotivasi manusia untuk melindungi hutan, karena hutan sebagai penyangga air, jika hutan rusak, banjir terjadi dan ini akan menimbulkan musibah dan wabah. Begitu mulai konsep-konsep dan makna setiap tradisi tersebut, sehigga jika ini kita bisa terapkan dalam berkehidupan sehari-hari, kita akan merasa damai dan sejahtera.

Penampilan barong bangkung dalam tradisi ngelawang sangat sederhana, namun memiliki arti ritual yang kental, dan bahkan menjadi sebuah pertunjukan seni juga, apalagi anak-anak mereka sangat menyukainya, menjadikannya sebagai tontonan menarik. Bagi kaum dewasa bisa menjadi kesempatan yang baik, menghaturkan sesari berupa sejumlah uang seiklasnya.  Selain untuk ritual, juga tradisi berkesenian yang patut kita lestarikan. Jika anda wisatawan dan ingin menyaksikan tari Barong (barong ket) yang lebih kreatif dalam perjalanan wisata tour di Bali, anda bisa menyaksikannya di kawasan Batubulan, Ubud, GWK dan juga Denpasar.