• Pura Tanah Lot
  • Wisata Naik Gajah
Bali banyak memiliki warisan budaya dan tradisi yang unik, yang masih dipegang teguh oleh masyarakat ataupun generasi penerusnya. Ini membuat roh Bali semakin kuat di mata wisatawan, mematapkannya sebagai destinasi wisata wajib, tidak hanya sekedar memiliki pantai indah, danau cantik ataupun pegunungan dengan panorama alam menakjubkan, namun budaya dan tradisi yang dimiliki berpadu serasi dengan objek wisata di Bali dengan alamnya yang indah. Sebuah karunia yang patut disyukuri.
 
Wisatawan yang ingin mengenal budaya lokal lebih dekat, tentu juga ingin mengetahui budaya-budaya unik yang masih dijaga keletariannya dan menjadikan Bali sebagai tempat wisata dan tujuan tour favorit yang tidak terlupakan, nilai budaya yang religius, historis dan geografis yang menarik. Budaya dan tradisi ini memang susah dipisahkan dengan keyakinan penduduk setempat.
 
Pada suatu saat sebuah budaya dan tradisi di salah satu desa Bali, rencananya tidak dilanjutkan lagi dengan suatu pertimbangan adat, tapi ada saja ciri-ciri alam tertentu yang mengindikasikan bahwa tradisi ataupun budaya tersebut tidak bisa dihentikan. Kepercayaan dan keyakinan masyarakat yang kental tersebut menjajaga sebuah budaya dan tradisi terjaga dengan baik, bahkan di salah satu tempat digali lagi budaya warisan leluhur untuk dilestarikan.
Ada beberapa budaya dan tradisi unik masarakat Bali, yang masih terjaga kelestariannya sampai saat ini, tradisi tersebut antar lain:
  • Pemakaman di Trunyan,Sebuah pemakaman desa yang mana jasad orang yang meninggal hanya diletakkan di bawah pohon Taru Menyan, yang tidak menimbulkan bau, jasad tersebut tidak dikubur cuma dikelilingi oleh dinding anyaman bambu bernama ancak saji.
  • Mekotek,budaya dan tradisi ini digelas di desa Munggu Mengwi, tujuan awal digelanya Mekotek untuk menyambut dan memberikan semangat para prajurit dari kerajaan Mengwi, yang menang berperang melawang kerajaan Blambangan.
  • Omed-omedan, Tradisi ciuman masaal yang cukup fenomenal di Bali, dilakukan oleh para muda-mudi desa Kesiman, tradisi ini sempat dihentikan karena mempertimbangkan etika ketimuran, namun dengan adanya ciri-ciri tertentu maka tradisi tersebut harus tetap digelar dan tetap dilangsungkan sampai sekarang.
  • Perang Pandan, dikenal juga dengan Mekare-kare, tradisi ini hanya ada didesa Tenganan Karangasem, melibatkan dua petarung dengan segepok panda berduri di tangan, tujuannya untuk menghormati dewa Perang Indra yang telah menang melawan kejahatan
  • Gebug Ende, perang tanding anatar dua orang laki-laki menggunakan tongkat dan tameng di desa Serasa, adu nyali hanya untuk kalangan profesional dan berbahaya, mereka bertarung untuk sebuah tradisi yang diwariskan turun temurun dengan tujuan memohon turunnya hujan.
  • Subak, pembagian air saat mengairi sawah atau irigasi secara tradisonal sangat terkenal di Bali, sehingga pembagian air merata, juga termasuk pemeliharaan dan ypacara keagamaan yang menyertai.
  • Megibung, tradisi makan bersama di Karangasem, saat-saat ada upacara adat seperti upacara perkawinan, ataupun upacara keagamaan yang melibatkan bantuan banyak orang, ini bertujuan untuk merekatkan tali persaudaraan antar sesama.
  • Ngaben, upacara pembakaran mayat atau kremasi yang dilakukan warga Hindu di Bali. Jadi setelah meninggal jasad bisa dikremasi langsung atau dikubur untuk menunggu hari baik atau dana mencukupi.
  • Nyepi keunikan budaya dan tradisi Bali yang digelar setiap tahunnya, yang juga meruoakan pergantian tahun baru Caka. Semua tidak boleh beraktifitas, bepergian, menyalakan lampu ataupun mengisi kesenagan.
 
Kemajuan Ilmu dan teknologi pada saat ini tidak membuat lantas tradisi tersebut tergeser, atau malah menghambatnya, namun yang pasti sedikit tidaknya tentu ada pengaruhnya dengan batas toleransi. Saat anda ikut wisata tour sewaktu-waktu anda bisa menyaksikan keunikan tersebut.
Tapi menurut Nyoman Gunarsa, salah seorang maestro seni lukis Bali, berpendapat bahwa masyarakat Bali secara perlahan mulai mengalami kemerosotan budaya yang antara lain terlihat dari konsep pengembangan arsitekturnya. Kata beliau terbukti banyak muncul bangunan minimalis yang mengabaikan arsitektur Bali, selain mengabaikan arsitektur Bali pada bangunan rumah, juga pada bangunan tempat ibadah (pura) terjadi pergeseran budaya.
 
Banyak pura yang direhab atau direnovasi, namun menghilangkan bahan-bahan asli yang memiliki nilai sejarah ratusan tahun, seperti batu bata dan batu padas,  ternyata bahan lama dibuang dan diganti dengan material yang baru, sehingga menghilangkan nilai sejarah, kata beliau labi, artinya melupakan makna kerja keras dan spiritual saat leluhurnya membangun bangunan tersebut.